Eksistensi Kebudayaan di Tengah Modernisasi dan Kemajuan Zaman

        
        Salah satu sifat dari budaya adalah dinamis. Sifat tersebut tidak saja membuat budaya harus menyesuaikan dengan kemajuan zaman. Namun substansi budaya juga harus tersampaikan beriringan dengan kemajuan zaman. Akan tetapi, di zaman serba modern ini, budaya seakan mulai “terpinggirkan” di tengah gemerlapnya modernisasi. Mengutip istilah dari Yogi Sutopo dalam karya tulisnya yang berjudul Benturan Budaya yang Semakin Nyata di Bojonegoro, bahwa saat ini banyak pemuda yang “latah dalam berbudaya” akibat dari modernisasi. Bahkan mereka cenderung lebih menyukai dan bangga apabila mempelajari budaya luar negeri, khususnya budaya barat. Lihat saja, banyak remaja merasa lebih gaul memakai celana jeans daripada memakai kebaya. Selain itu, banyak remaja juga lebih lincah dan atraktif dalam melakukan tari modern atau dance hingga merasa malu untuk belajar tari tradisi. Meski begitu, tetap saja ada upaya untuk melestarikan budaya unggul kita. Misalnya, adanya mata pelajaran muatan lokal di sekolah-sekolah yang bertujuan untuk memerkenalkan bahasa dan budaya masing-masing daerah. Serta peran aktif pemuda, organisasi masyarakat, hingga LSM sangat dinanti kontribusinya. 

        Inisiatif-inisiatif dari para pihak termasuk pemerintah, LSM, hingga pemuda diharapkan dapat terus bersinergi untuk melestarikan budaya bangsa, khususnya bagi para pemuda. Karena mengenali, mempelajari, hingga melestarikan budaya adalah sebuah kewajiban. Karena bagaimanapun juga, masa depan bangsa ini ada di tangan pemuda. Dan jika pemuda kita sadar dan cinta akan budayanya, tentu bangsa kita akan sejahtera dengan budaya sebagai faktor pendorong utamanya.

Comments

Popular posts from this blog

Evaluasi Dampak Pariwisata Terhadap Sosial Ekonomi Masyarakat Lokal

Problematika Penyelenggaraan Ibadah Haji dan Umrah di Masa Pandemi covid-19

Globalisasi: Tantangan & Peluang Bangsa Indonesia